Waktu terus berjalan, usia semakin bertambah dan hampir tak terasa saya telah berumur hampir 28 tahun. Anak saya yang pertama telah berumur 10 bulan. Hmmm,hampir tak terasa, saya benar-benar telah menjadi orang tua, nahkoda yang bertanggung jawab mengarahkan kapal yang disebut keluarga. Keselamatan kapal beserta semua orang yang ada di dalamnya sangat dipengaruhi oleh nahkodanya. Itulah tanggug jawabku. Hmmm, waktu terus berjalan, sangat singkat namun seakan sudah sangat lama. Saya menyangka waktu 28 tahun itu sangat lama, tapi sebetulnya sangat singkat. Buktinya, semuanya berlalu hampir tak terasa. Inilah hidup kawan, sangat singkat dan pasti akan berakhir.
Cobalah ingat masa lalu anda... apakah anda tidak merasakan bahwa semua yang telah dilewati seperti baru kemarin? Coba ingat berapa usia anda sekarang. Jangan berpikir bahwa 20 tahun ke depan itu sangat lama, karena jika anda sekarang sudah berusia lebih dari 20 tahun, apakah anda tidak menyadari bahwa itu sangat singkat? Sekali lagi, renungkanlah, jika anda merenungi, pastilah anda berpikiran sama denganku...
Tidak...! Saya tidak pesimis dengan hidup ini. Saya hanya tersadar betapa banyak waktuku yang terbuang sia-sia... Banyak hal yang telah kucapai dan belum bisa digapai oleh orang seusiaku. Dan yang kucapai itu banyak didambakan orang lain. Tapi apakah yang saya rasakan? Saya merasa hal ini tidak seindah saat saya mengimpikannya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Allah telah memberiku sebanyak ini... Tapi saya tidak pernah melakukan kebaikan seperti yang diinginkan oleh Allah...
Perasaan ini pasti akan selalu ada jika saya tidak segara berubah, berubah untuk menghargai waktu. Berubah untuk melakukan yang terbaik, bukan hanya untuk menggapai impian di dunia, tapi apa yang diperintahkan Tuhan kepadaku dan kepada semua manusia.
Semoga saya dan anda lebih baik lagi. Amin
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Doa-Doaku Dikabulkan oleh Allah
Subhanallah, Alhamdulillah... Allah mengabulkan doa-doaku. Hanya dengan satu peristiwa, banyak doaku yang terkabulkan. Saya jadi malu, mungkin saya telah berprasangka buruk kepada Robbku (Allah SWT).
Beberapa hari yang lalu saya dilanda rasa gundah yang sangat. Tubuh terasa lemas, tidak ada semangat hidup dan lebih parah lagi karena saya merasa bahwa Allah tidak menerima doaku atau doaku tidak pantas untuk dikabulkan. Astagfillah.
Tapi, sesaat setelah krisis psikologi ini berlangsung, tiba-tiba muncul kepasrahan kepada Allah. Di dalam hatiku terus berkata "apa pun yang Allah kehendaki, pasti itulah yang terbaik untukku. Saya pasrah kepadaMu ya Allah. Sungguh saya tidak bisa berbuat apa-apa ya Allah kecuali Engkau menolongku". Kata-kata ini muncul dengan perasaan yang betul-betul pasrah, saya merasakan bahwa tidak ada yang dapat menolongku kecuali Allah.
Benar juga, beberapa hari kemudian, telpon genggamku berdering. Saya tidak tahu siapa gerangan yang menelpon. Saya punya kebiasaan buruk, enggan mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Tapi, siang itu tiba-tiba tanganku meraih kembali handphone dan me-misscall ke nomor asing tadi. Rupanya, Alhamdulillah, Subhanallah, kekuasaan Allah diperlihatkan kepadaku. Saya dipersilahkan mengikuti ujian meskipun berkas belum selesai dan uang untuk membayar sangkutan belum cukup. Bayangkan saja, uang di saku hanya cukup untuk belanja makanan beberapa hari, sementara sangkutanku sebanyak 1,2 juta lebih. Subhanallah!
Maha Benar Allah dengan janjiNya. Apa lagi yang saya ragukan dari Allah? Apa lagi yang membuatku tidak bersyukur atas nikmatNya? Kadang saya tidak bersabar, padahal Allah berkali-kali menyebutkan dalam kitabNya (Al Qur'an) bahwa "beruntunglah orang-orang yang bersabar" (maaf, saya tidak hafal ayat), astagfirullah.
Ya Allah, buatlah saya menjadi hamba yang pandai mensyukuri segala nikmatMu. Buatlah saya memahami segala kekuasaanMu ya Robb. Amin Ya Robb
Maha Benar Allah dengan janjiNya. Apa lagi yang saya ragukan dari Allah? Apa lagi yang membuatku tidak bersyukur atas nikmatNya? Kadang saya tidak bersabar, padahal Allah berkali-kali menyebutkan dalam kitabNya (Al Qur'an) bahwa "beruntunglah orang-orang yang bersabar" (maaf, saya tidak hafal ayat), astagfirullah.
Ya Allah, buatlah saya menjadi hamba yang pandai mensyukuri segala nikmatMu. Buatlah saya memahami segala kekuasaanMu ya Robb. Amin Ya Robb
Betapa Lemahnya Diri ini
Astagfirullah, saya tidak tau apa yang harus kulakukan. Saya tidak tau mau melangkahkan kaki ke mana. Saya tidak tau harus memilih yang mana. Sungguh, saya menyadari tak satu pun yang pernah kumiliki adalah milik saya. Tak satu pun pujian orang terhadapku itu benar. Tak satu pun rasa banggaku itu benar. Semua itu bukan milikku, semua hanya titipan, dan mungkin saatnya Allah mengambilnya kembali.
Kenapa, kenapa diri ini tidak pernah berpikir di saat aku merasa senang, kenapa tidak pernah terpikir bahwa rasa senang yang kurasakan hanyalah sementara dan semua pasti akan berakhir. Bodohnya lagi, di saat seperti ini, setelah menyadari kebodohan itu, kenapa saya tidak mampu berbuat sesuatu yang lain yang lebih baik, lebih baik untuk Sang Pemilik, Sang Pencipta, Allah SWT? Kenapa saat ini saya tidak bisa menggerakkan kakiku, menggerakkan tanganku, mengarahkan pikiranku untuk hal-hal yang Allah cintai?
Saya benar-benar lemah ya Allah... :'( saya tidak mampu memenuhi panggilan-Mu :'( Saya tidak mampu meninggalkan kebiasaanku yang bodoh :'( Jika hari pembalasanMu telah tiba, apa yang akan kuperbuat? jangankan di hari itu, sekarang saja saya tidak mampu melawan. Jangankan melawan kekuasaanMu ya Allah, melawan mahlukMu saja saya tidak mampu. Tertusuk duri saja saya sangat merasakan sakit, bagaimana jika siksaanMu nanti :'( ?
Ya Allah, saya hanya mampu berpasrah kepadaMu, saya tidak mampu melakukan apa yang Engkau Cintai, saya tidak mampu melakukan apa yang Engkau perintahkan :'(
Ya Allah, saya hanya mahluk yang sangat lemah :'( kasihanilah diri yang hina ini Ya Allah... karena saya tidak mampu melawan KehendakMu ;'(
Mengapa Kita Harus Bersyukur?
"Mengapa sih kita harus beryukur? Allah selalu memberi sesuatu yang lebih baik kepada orang lain, sementara saya selalu kurang dan tidak sesuai harapanku?" Astagfirullah... jangan sampai saya pernah mengeluh seperti itu.
"Bukankah kita ingin bahagia? Bukankah kita ingin hidup lebih baik? Tapi mengapa Allah tidak mendengar do'a-ku?" Kalimat ini adalah kalimat pesimis yang sering dilontarkan oleh orang yang malas berusaha, Astagfirullah. Sekarang saya mau bertanya, "Anda ingin bahagia atau ingin senang?" Jangan menjawab pertanyaan ini dalam keadaan panas, gundah atau kacau. Sebaiknya istrahat dulu, lalu mandi, hidangkan segelas minuman untuk anda sendiri, kemudian duduk tenang dan cobalah untuk menjawab pertanyaanku tadi.
Tahukah kita bahwa bahagia dan senang itu sangat berbeda? Orang yang berhasil mengumpulkan uang untuk membeli mobil pasti sangat senang karena telah berhasil membeli mobil idamannya. Atau orang pasti akan sangat senang jika dia sangat butuh uang tiba-tiba ada yang menawarkan tanpa harus dilunasi. Tapi, pertanyaannya kemudian, apakah dia bahagia? Belum tentu saudaraku, sesungguhnya kebahagiaan itu hanya dirasakan oleh orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya.
Orang yang berhasil membeli mobil atau mendapatkan uang tidak akan bahagia jika ia tidak bersyukur. Mengapa? Sebab, besok pasti dia akan berpikir lagi, "seandainya saya bisa membeli mobil yang lebih mewah" atau "seandainya saya diberi uang yang lebih banyak". Akhirnya, kebahagiaannya tertunda lagi dan rasa senangnya hanya berlangsung sebentar saja.
Tapi jika dia termasuk orang yang bersyukur, dia pasti akan berkata "Alhamdullillah, saya sudah bisa membeli mobil mewah, saya sudah bisa menikmati hasil kerjaku, padahal masih banyak orang yang sangat menginginkan mobil tapi uangnya tidak pernah cukup". Dia tidak akan berharap lagi yang lebih baik, dia sudah sangat sayang dengan mobilnya yang sudah ada. Dia pun bisa menikmati kesenangannya dalam waktu yang lama. Dia tidak akan teruuuuus bekerja untuk membeli mobil yang lebih mewah.
Tidakkah kita belajar pada sekitar kita, banyak orang yang memiliki harta yang melimpah, tetapi setiap hari di rumahnya terjadi pertengkaran, atau setiap orang yang ada di dalam rumah merasa tidak betah dan selalu ingin mencari suasana yang lebih baru?
Tidakkah kita melihat di bagian sana, rumah sederhana, hanya memiliki sepeda motor tua, uangnya hanya pas untuk membeli kebutuhan sehari-hari, tapi selalu senang, bercanda bersama keluarga, senang mengajak orang ke rumahnya, senang memberi walau tidak seberapa jumlahnya.
Siapa yang bahagia? Sekali lagi, kebahagiaan hanya dirasakan oleh orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah SWT.
Orang yang tidak bersyukur akan mengalami kebutaan hati, tidak luas cara berpikirnya, selalu was-was. Maka dari itu, marilah kita bekerja semampu kita, kemudian gantungkan keberhasilannya hanya kepada Allah SWT. Insya Allah, kita termasuk orang yang pandai bersyukur dan Insya Allah akan bahagia di dunia dan akhirat. Amiin Ya Robb...
Semoga saya termasuk orang yang pandai bersyukur. Namun jika tidak, semoga Allah membuatku pandai bersyukur, Insya Allah, Amiiiin, Amiiin Amiiiiin Ya Robb...